Ketika Bilqis Harus Cangkok Hati

Kau bagai Bunga dan Aku Kupu-kupu
Kau memberikan keindahan,
Hinggaku selalu ingin menghampirimu,
Walau kau terkadang pucat.
Kau menyuguhkan manisnya senyummu,
Hinggaku selalu ingin menghinggapimu,
Meski kau terlihat lelah.

Kau relakan kelopakmu sebagai pelepas lelahku
Dan, kau terlihat pasrah saat sayapku menutupi kelopakmu.
Bungaku … kaulah hidupku.

Demikian penggalan sajak yang sangat romantis sekali….Dewi Farida —seorang ibu rumah tangga sekaligus penulis buku Ketika BILQIS Harus Cangkok Hati – Perjuangan Seorang Ibu yang Anaknya Mengidap Atresia Bilier— sebagai sosok Aku, sedangkan Bilqis Anindya Passa —seorang anak pengidap atresia bilier putri dari Dewi Farida— sebagai sosok Kamu.

Buku ini esensinya mengetengahkan perjalanan waktu hidup seorang Bilqis dari mulai pertama masuk rumah sakit hingga terdeteksi mengidap atresia bilier dan pada akhirnya meninggal dunia.

Cara penulis dalam mencurahkan kasih sayang terhadap putrinya yang malang ini sangat dahsyat sekali. Terbukti hampir pada seluruh bab yang ada pada buku yang tebalnya 160 halaman ini berisikan perasaan Dewi Farida yang dicurahkan dalam bentuk sajak. Betapa sang mama sangat kehilangan putrinya.

Saya sendiri punya pengalaman, tatkala melihat langsung shooting APA KABAR INDONESIA PAGI di TV One, waktu itu Dewi sangat memukau pemirsa di studio dan (tentunya) pemirsa di rumah, beliau sangat menjiwai, membacakan sajaknya. Dan itu sangat menyentuh sekali. Atau saat proses penata letakan buku ini, seorang teman ilustrator menderaikan airmata, ketika membaca buku yang kala itu masih berupa draft untuk di proofreading.

Buku sudah beredar di toko-toko buku terkemuka di beberapa kota besar. Atau bisa ditanyakan langsung ke alamat Yayasan Bilqis Sehati melalui telepon: 02170632691. Bisa juga mengunjungi situs resmi: http://www.bilqissehati.or.id.

Buku pun mendapatkan perhatian khusus dari Linda Amalia Sari Gumelar, S.Ip. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia memberikan kata pengantar pada awal halaman buku ini.

“Sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang mengikuti perjalanan sakit Bilqis sejak dirawat di Rumah Sakit dr. Karyadi Kota Semarang hingga akhirnya kembali ke pangkuan-Nya, saya juga sa­ngat berdukacita dan merasakan kehilangan. Ketika ber­kesempatan untuk menggendong Bilqis di ruang ICU Rumah Sakit dr. Karyadi, sebagai Ninik sayang atau Niyang, saya juga merasakan betapa tubuh mungil Bilqis menyimpan kekuatan dan ketegaran yang luar biasa dan sekaligus menjadi kenangan yang tidak terlupakan” ~Linda Amalia Sari Gumelar, S.Ip.

Tentang Penulis

Dewi Farida lahir di Jakarta 12 Desember 1972. Kini, hidup bahagia bersuamikan Donny Ardianta Passa, putra sulung asal Jogjakarta. Per­kawinannya pada 2005 telah membuahkan dua orang bidadari yang sangat cantik dan lucu. Putri pertamanya bernama Ratu Aqila Passa (lahir pada 4 Mei 2006) dan putri keduanya Bilqis Anindya Passa (lahir pada 20 Agustus 2008).

Dewi dibesarkan di lingkungan keluarga sederhana. Ayahnya Bahruddin Syatha asal Makasar dan sang bunda Bakti Ningsih asal Betawi telah memberikan kombinasi baik bagi keturunannya. Sejak kecil Dewi sudah diajarkan nilai-nilai kehidupan oleh kedua orang tuanya juga oleh Oma Siti Hapsah) yang telah menganggapnya seperti anak sendiri, mengingat Oma tidak memiliki keturunan. Sejak usia lima tahun, Dewi sudah biasa diajak ke kantor tempat Oma bekerja dan sejak sekolah dasar pula sudah belajar mengatur keuangan kakak dan adik-adiknya. Semua hal ini melekat hingga Dewi tumbuh menjadi wanita dewasa yang giat bekerja dan pantang menyerah.
Kuliah malam Jurusan Manajemen ditempuhnya sambil bekerja. Niatnya untuk menjadi seorang Sarjana Ekonomi sangat kuat meski kadang terkendala oleh biaya kuliah.

Pada 2004, Dewi mendirikan perusahaan periklanan bersama seorang rekan dari Singapura. Namun, sejak 2006 akhir hingga kini, Dewi menjalani perusahaan tersebut sendiri. Pada 2008, Dewi mendirikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sekolah bermain untuk anak-anak kurang mampu yang bertempat di halaman depan rumahnya. Dewi juga menjadi pengajar di PAUD ini.

Mudah-mudahan buku ini bisa menjadi jembatan bagi semua pihak sebagai sebuah pembelajaran… [diterbitkan oleh Progressio]

2 comments
  1. dewi said:

    Waaww…Pak Ade, saya sangat tersanjung membaca blog ini, bahkan saya tdk pernah tahu bagaimana respon penonton ketika saya ditayangkan atau siaran di TV sebelum membaca pengalaman yg bapak ceritakan, terimakasih banyak udah membuat bacaan yg begitu indah bagi saya, mudah2an siapapun yg menghampiri blog ini akan mendapat manfaat dan perasaan senang. Nuhun pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: